Ini Dia Stadium-Stadium yang Akan Digunakan Pada Laga Piala Dunia 2010


Green Point Stadium, Cape Town
KOTA
Cape Town
KAPASITAS
70000 orang
ALAMAT
Beach Road, Cape Town

Stadion Green Point merupakan arena yang berlokasi di bagian paling utara di Afrika Selatan. Lokasinya berbatasan dengan Samudera Atlantik dan pemandangan hamparan air laut inilah yang menjadi nilai plus dari stadion ini.
Pada awalnya, stadion ini hanya memiliki kapasitas tempat duduk untuk 18.000 orang. Orang-orang keturunan Belanda yang berada di kawasan tersebut menyebutnya sebagai “de Waterplaats” atau “Wadah Air”. Bentuk awalnya seperti piring lebar dan kebetulan dekat dengan air laut samudera.

Begitu Afsel ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010, pemerintah langsung memugar dan menaikkan kapasitas tempat duduknya menjadi 70.000 kursi. Untuk mendirikannya, pemerintah melibatkan SAIL sebagai operator yang pernah membangun Stadion de France pada Piala Dunia 1998. Dengan dana sekitar 4,4 juta rand, kemudian dibentuklah bangunan besar menyerupai lingkungan sekitarnya.

Berseberangan dengan laut di bagian utara, di sebelah selatan stadion ini tampak menjulang perbukitan Signal Hill. Lebih ke selatan lagi, tampaklah pegunungan yang disebut “Table Mountain” atawa “Gunung Meja” karena puncaknya yang rata mirip permukaan meja. Bentuk itulah yang mendasari desain stadion ini.
Bangunannya berbentuk oval. Dinding luarnya dibuat mirip jalinan rangka. Di malam hari, lampu-lampu di stadion akan menampilkan pencahayaan luar biasa dan melingkari stadion. Wajar jika kemudian tempat ini dijuluki “The Ring of Fire” atau “Cincin Api”.

Rencananya, stadion ini tetap digunakan untuk pertandingan sepak bola dan rugby. Klub sepak bola Santos FC dan Ajax Cape Town sudah sejak lama “menghuni” arena ini. Pada pertengahan 2006, dilaporkan bahwa Western Province Rugby Union (Persatuan Rugby Provinsi Bagian Barat) mungkin akan menempati stadion tersebut setelah gelaran Piala Dunia. Alasan utama kepindahan Rugby Union dari Stadion Newland ini adalah agar stadion tersebut tetap terpelihara.

Cape Town: Moleknya “Kota Ibu”

Cape Town–yang juga sering disebut “Kota Ibu”–merupakan kota yang sangat indah. Kota yang terletak di antara Samudera Atlantik dan Gunung Meja ini menjadi salah satu lokasi bagi para pelancong dalam kunjungan mereka ke Afsel.

Penduduk Cape Town menggantungkan nasibnya pada sektor pariwisata. Pelabuhan Hout Bay, misalnya, menjadi tempat favorit untuk memancing berbagai ikan, terutama tuna dan lobster. Di dekat pelabuhan itu, ada kawasan yang dikenal dengan The Victoria & Alferd Waterfront. Kawasan pesisir ini merupakan lokasi paling padat dan banyak disinggahi wisatawan, khususnya untuk berbelanja.

Jika hari cerah, gunung berpuncak rata di sisi selatan kota bisa dilihat dari jarak 200 km dari pantai. Barangkali hanya sedikit orang yang tak jatuh cinta pada kota berpenduduk 1,3 juta jiwa ini. Orang-orang itu mendapatkan pengaruh besar dari bangsa Melayu karena wilayah ini merupakan jalur perdagangan rempah-rempah bangsa Eropa.
Cape Town sendiri diduga telah berpenghuni sejak 100.000 tahun sebelum masehi. Setelah kedatangan pelaut Eropa pada 1652, kota ini dijadikan wilayah peristirahatan para pelaut yang berlayar menuju India untuk berdagang rempah-rempah.

Kota ini juga berperan penting dalam sejarah Afrika Selatan. Salah satu situs yang paling terkenal di Cape Town adalah Pulau Robben. Pada 1898, pulau tersebut dijadikan tempat pengasingan bagi tahanan politik. Di pulau tersebut, pejuang Apharteid Nelson Mandela pernah ditahan.

Sepak bola

Selain terkenal pariwisatanya, Cape Town juga terkenal melahirkan banyak pemain sepak bola hebat seperti Shaun Barlett, Benni McCharty, Andre Arendse, dan Quinton Fortune.

Fortune adalah bekas pemain Manchester United. Ia membela “Setan Merah” selama tujuh musim sejak 1999 silam. Adapun McCharty adalah pencetak gol terbanyak bagi Afrika Selatan. Sejak membela “Bafana Bafana” pada 1997, ia telah mengemas 32 gol dari 77 pertandingan yang dilakoninya. Sebelum membela Blackburn Rovers, McCharty pernah membela FC Porto, Celta Vigo, Ajax, dan Seven Stars.

Ellis Park Stadium

KOTA
Johannesburg
KAPASITAS
61.000 orang
ALAMAT
Ellis Park

Johannesburg merupakan kota terbesar sekaligus jantung ekonomi Afrika Selatan, yang menyumbang 16 persen pendapatan kotor Afrika Selatan. Bahkan, Johannesburg masuk dalam daftar 50 kota ekonomi terbesar dunia. Kondisi perekonomian Johanneburg saat ini bukan dibangun dalam semalam, melainkan melalui perjalanan sejarah yang berat dan panjang.

Pada abad ke-19, penemuan kandungan emas dan mineral lain di Johannesburg, mengundang banyak pencari emas dari berbagai belahan dunia, terutama Australia, untuk mengadu nasib di sini. Johannesburg yang awalnya sepi, mendadak ramai dan padat. Pesatnya sektor pertambangan diikuti oleh tumbuhnya sektor pendukung lain, misalnya penyedia kebutuhan hidup sehari-hari, penginapan, dan perumahan.

Lambat laun, ketika bahan tambang mulai menipis, penduduk beralih ke industri barang dan jasa, misalnya bank, real estat, transportasi, media cetak, baja, teknologi informatika, kesehatan, dan bisnis ritel. Bidang ekonomi turunan inilah yang terus berkembang dari masa ke masa, sampai sekarang.

Sebagai kota yang berhubungan dengan berbagai pusat-pusat ekonomi dunia, Johannesburg terus membenahi diri supaya bisa mengakomodasi kebutuhan relasi-relasi bisnis yang tersebar di berbagi penjuru dunia. Perlahan tetapi pasti, Johannesburg pun membentuk diri menjadi kota multietnik modern.

Bentuk kasat mata modernisasi itu adalah tumbuhnya bangunan-bangunan megah di berbagai wilayah. Pembangunan fisik ini tidak terbatas untuk kepentingan bisnis saja, tetapi merambah ke berbagai bidang, termasuk olah raga, yaitu Stadion Ellis Park, yang mulai 2005 menjadi stadion pertama yang dimiliki warga kulit hitam di Afrika Selatan.

Ellis Park dibangun pertama kali pada 1928 sebagai sebuah lapangan rakbi. Stadion ini kemudian dihancurkan dan dibangun kembali pada 1982, untuk lagi-lagi menjadi stadion rakbi. Saat itu, stadion ini diberi nama JD Ellis, sebagai penghormatan kepada kanselir kota Johannesburg yang menyetujui penggunaaan lahan seluas 13 acre untuk dijadikan stadion.

Momen terbesar di stadion ini adalah ketika tim rakbi Afrika Selatan secara mengejutkan mampu menundukkan Selandia Baru di babak final Piala Dunia Rakbi 1995. Peristiwa itu menjadi saat yang membuat warga Afrika Selatan bersama-sama merayakan keberhasilan itu dengan Nelson Mandela.

Menyambut Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, stadion ini dipugar sehingga mengalami peningkatan daya tampung dari 57.000 menjadi 62.567penonton pada 2009. Tribun utara stadion merupakan bagian yang mengalami pengembangan terbesar.

Tribun ini menyediakan fasilitas untuk media massa, kursi VIP, tempat khusus untuk penonton yang memiliki cacat fisik, dan seperangkat audio visual berkualitas tinggi sebagai sarana memberikan informasi kepada penonton. Stadion ini memang dibangun dengan sangat modern, supaya bisa mengakomodasi kebutuhan dan gairah semua orang terhadap sepak bola. Bahkan, melalui situs resminya, FIFA mengklaim bahwa tak seorang pun akan meninggalkan stadion ini dengan rasa kecewa.

Jadwal pertandingan
Grup B Sabtu (12/6) 16:00 Argentina vs Nigeria
Grup G Selasa (15/6) 20:30 Brasil vs Korut
Grup C Jumat (18/6) 16:00 Slovenia vs AS
Grup H Senin (21/6) 20:30 Spanyol vs Honduras
Grup F Kamis (24/6) 16:00 Slowakia vs Italia
16 besar Senin (28/6) 20:30 1G vs 2H
Perempat final Sabtu (3/7) 20:30 W55 vs W56

Mbombela Stadium, Nelspruit

KOTA
Nelspruit
KAPASITAS
46000 orang
ALAMAT
Nelspruit, South Africa

Tentang Stadion
PEMBANGUNAN Stadion Mbombela, salah satu stadion Piala Dunia 2010 di dekat Kota Nelspruit, awalnya memberikan banyak harapan bagi penduduk di sekitarnya. Sayang, berdirinya stadion berkapasitas 44.000 tempat duduk itu justru mengorbankan kepentingan lebih dari 734.000 jiwa penduduk Mbombela dan sekitarnya.
Mbombela merupakan salah satu wilayah administratif di Provinsi Mpumalanga, sekitar 6 km dari Kota Nelspruit. Nama Mbombela diambil dari bahasa lokal Swasti yang berarti banyak orang berkumpul ditempat kecil. Letaknya di antara bukit-bukit yang indah di bagian timur laut Afrika Selatan, kaya akan buah-buahan seperti jeruk dan avokad, dialiri sejumlah air terjun, sehingga mendapat julukan “Taman Surga”. Stadion ini merupakan stadion baru yang dibuat khusus untuk ajang PD 2010. Desainnya berbentuk persegi dengan sudut-sudut melengkung.
Semuanya dirancang dengan tema alam bebas seperti kehidupan satwa liar di Taman Nasional Kruger, tak jauh dari lokasi stadion. Ciri khas paling kentara dari tema itu terlihat pada kolom-kolom penyangga bangunan. Tiang-tiang ini berjejeran mengelilingi stadion, menjulang tinggi, berbentuk lancip, dan berwarna oranye. Tampilannya mirip dengan zarapah, binatang leher panjang yang menjadi ciri khas negara tersebut. Kursi-kursi penonton dicat belang hitam-putih, mirip kelir zebra.

Total biaya yang dibutuhkan untuk membangun stadion ini mencapai 172 juta dollar AS atau lebih dari Rp 1,65 triliun. Ini bukan jumlah yang sedikit untuk sebuah stadion seluas 22.500 meter persegi. Warga menganggap harga ini terlalu tinggi, apalagi di kemudian hari muncul isu skandal korupsi dan konflik kepentingan.
Skandal itu antara lain soal upaya pemerintah kota yang gagal membeli lahan dari kelompok Matsafeni. Pelaksanaan tender pun diduga menyalahi aturan. Pemkot setempat dituding berupaya membeli lahan untuk kepentingan sendiri. Konflik kepentingan menyebabkan Jimmy Mohlala, juru bicara Pemkot yang dikenal kritis menanggapi penyelewengan, dibunuh oleh sejumlah pria bertopeng pada Januari 2009. Tidak ada satu tersangka pun yang ditahan atas masalah ini.

Pemerintah juga dianggap mengabaikan kompensasi bagi warga setempat sehingga pasokan listrik dan air bersih ke Kota Mataffin terbengkelai. Warga di kota kecil dekat stadion itu bahkan harus mengais air dari sumur-sumur kotor. Anak-anak kecil menjadi korban dan terserang diare.

Kegalauan penduduk itu diikuti oleh aksi mogok para buruh bangunan. Hampir separuh dari seribu pekerja, yang mulai membangunnya sejak Februari 2007, menuntut kenaikan upah dua kali lipat. Dua kontraktor yang ditunjuk penyelenggara akhinya memecat para buruh yang mogok tersebut.
Jadwal pembangunan, yang semestinya selesai pada Juli 2009, terpaksa dimundurkan hingga 15 Oktober. Selain karena mogoknya buruh, pemunduran ini juga disebabkan oleh kerusakan bangunan akibat crane yang jatuh karena tertiup angin kencang. Stadion ini bahkan harus dirombak lagi pada awal 2010 karena sistem drainasenya yang buruk. Stadion ini diharapkan sudah berfungsi penuh pada Februari 2009.

Tentang Kota
Kota Nelspruit: Gerbang Surga, Pintu bagi Sang Surya
SIAPA yang menyangka jika tempat yang dulunya begitu ndeso ini menjadi kota mewah dan indah. Berawal dari desa pertanian, Nelspruit kini berubah menjadi ibu kota Provinsi Mpumalanga, yang berarti tempat matahari terbit. Tiga kakak-beradik dari keluarga Nel mulai membangunnya pada 1905 dan menjadikannya daerah penghasil buah-buahan. Berada di lembah dekat.Sungai Buaya, daerah ini menjadi tempat bertumbuhnya pisang, jeruk, mangga, avokad, tembakau, kopi, kemiri, dan limau.
Pendapatan dari sektor pertanian ini menyumbang sepertiga pendapatan negara tersebut. Di musim kemarau (Juni-Agustus), kawasan ini bertabur warna-warni kembang bougenville dan bauhinia. Wilayah ini juga dikenal lewat industri kertas serta kayu, baik kayu mentah maupun olahan berupa mebel. Semua mulai berubah sejak Taman Nasional Kruger dibuka pada 1926. Nelspruit sebagai kota terdekat terkena imbas menguntungkan. Wisatawan yang hendak melancong ke taman nasional tersebut harus melalui Nelspruit.
Tumbuhnya angka wisatawan itu menyebabkan sector perindustrian industri dan perdagangan makin marak pada 1995 dan mengubah wajah kota tersebut. Jalan-jalan tertata rapi, demikian pula tata ruang kota. Lalu-lintas di kota ini pun ikut sibuk. Maka jangan heran jika kota ini punya dua bandara, yakni bandara internasional Kruger Mpumalanga di timur laut dan bandara Nelspruit yang lebih kecil di barat daya.

Sepak bola
Meskipun menjadi ibu kota provinsi, kota Nelspruit justru tak memiliki klub sepak bola profesional di Afrika Selatan. Pemain-pemain profesional di provinsi ini justru berkumpul di kota Witbank, sekitar 150 km dari Nelspruit.
Di Witbank ada dua klub yang berlaga di dua divisi berbeda. Mpumalanga Black Aces berlaga di Liga Primer Afsel meski masih menempati posisi papan bawah. Adapun Witbank Spurs berlaga di Divisi I.

Jadwal pertandingan:
Grup H Rabu (16/06/10) 18:30 Honduras – Cile
Grup F Minggu (20/06/10) 21:00 Italia – Selandia Baru
Grup D Kamis (24/06/10) 01:30 Australia – Serbia
Grup G Jumat (25/06/10) 21:00 Korea Utara – Pantai Gading

Free State Stadium, Bloemfontein/Mangaung

KOTA
Bloemfontein/Mangaung
KAPASITAS
45000 orang
ALAMAT

Tentang Stadion
DIBANGUN pada 1952, Stadion Free State menjadi kandang berbagai cabang olahraga. Selain menjadi kandang klub sepak bola, juga klub rugby. Dua olahraga paling populer di daerah itu. Maka, wajar jika stadion ini menjadi semacam tempat “peribadatan” masyarakat Kota Bloemfontein atau Mangaung ini. Apalagi, ada dua klub rugby yang bermarkas di stadion ini, yakni Free State Cheetahs yang bermain di kompetisi domestik Currie Cup dan Central Cheetahs yang bermain di kompetisi Free State dan Northern Cape Provinces di Super 14.
Sedangkan klub sepak bola yang bermarkas di stadion ini adalah Bloemfontein Celtic. Mereka tampil di Liga Sepak Bola Premier. Kompetisi nomor satu di Afrika Selatan. Nama stadion ini diambil dari nama provinsi di daerah itu, yakni Provinsi Free State. Menjadi salah satu venue Piala Dunia 2010, Stadion Free State langsung direnovasi. Stadion yang tadinya hanya berkapasitas 38.000 penonton, kini menjadi 45.000 penonton.
Renovasi stadion ini sempat menimbulkan kekhawatiran apakah akan sesuai deadline atau tidak. FIFA sempat mempertanyakannya. Namun, panitia lokal berusaha meyakinkannya.
Dana yang dibutuhkan untuk merenovasi stadion ini sebesar 245 juta rand atau sekitar Rp 311,2 miliar. Tapi, dana yang tersedia hanya 221 juta rand atau sekitar Rp 280,7 miliar. Demi kesuksesan Piala Dunia dan harga diri kota, pemerintah lokal akhirnya bersedia menambal kekuarangan sebesar 24 juta rand (sekitar Rp 30,4 miliar).
Renovasi stadion itu dimulai pada Juli 2007. Dan, hanya butuh setahun lebih untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Bahkan, pada Juni 2009, stadion ini sudah dipakai untuk Piala Konfederasi.
Stadion tersebut menjadi begitu mewah dan megah. Bahkan, tempat ini menjadi kompleks olahraga multicabang. Selain untuk rugby dan sepak bola, juga tenis, kriket, hoki, dan atletik. Stadion juga dilengkapi shopping center, media center, perlengkapan broadcasting, juga layar video.
“Kami harus pintar menjualnya agar ada dana untuk melengkapi stadion ini dengan fasilitas lainnya,” kata CEO Panitia Piala Dunia di Bloemfontein, George Mohlakoana. (HPR)

Tentang Kota
Bloemfontein/Mangaung: Kota Mawar Sarang Cheetah
BLOEMFONTEIN punya nama lain yang sama populernya, yakni Mangaung. Kota yang menjadi salah satu tempat penyelenggaraan Piala Dunia 2010 ini merupakan ibukota Provinsi Free State. Nama Bloemfontein diberikan oleh orang Kanada, Jan Blom (1775-1858) yang tinggal di daerah itu. Tapi, ada pula yang mengatakan nama itu diberikan pelopor pertanian di daerah itu, bernama Bloem, yang diseret singa ke dekat air mancur. Namun, Bloemfontain kemudian diartikan sebagai bunga-bunga yang bersemi. Sebab, di kota ini banyak bunga-bunga, utamanya mawar. Maka, kota ini juga populer dengan sebutan Kota Mawar. Apalagi, setiap tahun memang ada festival mawar di kota ini, menjadi salah satu acara wisata yang mengagumkan.
Sementara nama lama kota ini adalah Mangaung yang artinya sarang cheetah. Dulunya, kota ini memang menjadi tempat populasi cheetah. Hewan sejenis harimau yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat.
Kota ini didirikan oleh Mayor Henry Douglas Warden, salah satu pemimpin pasukan Inggris yang ke Afrika Selatan, pada 1846. Saat itu daerah ini ditinggali penduduk Cape, suku Trek Boers, Griqua, dan Basotho.
Pada tahun 1994, kota ini menjadi Ibukota Judisial. Di sinilah terdapat pengadilan tinggi untuk Afrika Selatan. Kota ini juga dikenal daerah administrasi. Rumah sakit dan lembaga pendidikan cukup dominan di kota yang populasinya 369,568 penduduk ini.

Jadwal pertandingan:
Grup E Senin (14/6) 21:00 Jepang vs Kamerun
Grup B Kamis (17/6) 21:00 Yunani vs Nigeria
Grup F Minggu (20/6) 18:30 Slowakia vs Paraguay
Grup A Selasa (22/6) 21:00 Perancis vs Afsel

Loftus Versfeld, Tshwane/Pretoria

KOTA
Loftus Versfeld
KAPASITAS
50000 orang
ALAMAT
Tshwane/Pretoria, South Africa

Stadion Loftus Versfeld: Saksi Sejarah Kebangkitan Bafana Bafana

Stadion Loftus Versfeld, yang terletak di Tshwane/Pretoria, merupakan salah satu stadion tertua di Afrika Selatan. Dan, sejak tahun 1903 stadion ini sudah digunakan untuk menyelenggarakan berbagai event akbar olahraga.

Karena frekuensi penggunaannya sangat sering, maka pada tahun 1923 Pemerintah Kota Pretoria untuk pertama kalinya mewujudkan struktur stadion tersebut untuk bisa mengakomodasi penonton meskipun hanya berkapasitas 2.000. Kemudian, sejak 1948 stadion ini kembali diperbarui sehingga menjadi lebih besar dan digunakan untuk pertandingan sepak bola dan rugby. Stadion ini juga merupakan markas dari salah satu tim rugby yang top di Afrika Selatan, Blue Bulls.

Loftus Versfeld terletak di jantung Tshwane/Pretoria dan sekarang kapasitasnya sudah mencapai 50.000 tempat duduk. Stadion ini juga sering menjadi tuan rumah pertandingan-pertandingan besar, termasuk Piala Dunia Rugby 1995 dan CAF African Cup of Nations 1996. Kini, stadion tersebut dijadikan home ground Mamelodi Sundows dan SuperSport United.

Nah, pada Piala Dunia 2010 Loftus Versfeld juga mendapat kesempatan mementaskan enam pertandingan, salah satunya adalah ketika Afrika Selatan bertemu dengan Uruguay pada 16 Juni nanti. Duel di stadion ini bisa menjadi “obat” penambah semangat bagi Bafana Bafana–julukan Afrika Selatan–karena mereka memiliki peluang untuk meraih kemenangan.

Ya, stadion ini merupakan saksi sejarah kebangkitan sepak bola Afrika Selatan. Pasalnya, di sini untuk pertama kalinya Bafana Bafana meraih kemenangan atas tim Eropa ketika mereka mengalahkan Swedia 1-0 pada tahun 1999.

Kota Tshwane/Pretoria: Kaya Sejarah dan Pernah Beraroma Apartheid

Tshwane/Pretoria merupakan kota yang kaya dengan berbagai peninggalan sejarah. Ini terlihat dari banyaknya museum dan monumen yang ada di kota dengan jumlah penduduk sekitar 2,2 juta jiwa tersebut. Semua itu dipertegas lagi dengan adanya barang-barang seni kontemporer dan pasar-pasar kerajinan, yang membuat kehidupan kota ini unik karena ada perpaduan antara baru dan lama.

Kota dengan ketinggian 1.214 meter di atas permukaan laut ini merupakan ibukota Afrika Selatan. Banyak kedutaan besar yang ada di sana. Pemandangan Union Buildings, yang merupakan istana (rumah pemerintahan) para presiden terpilih seperti Nelson Mandela, Thabo Meki dan presiden Afrika Selatan yang sedang berkuasa, Jacob Zuma, semakin menambah keindahan kota.

Mengapa kota ini memiliki dua nama (Tshwane/Pretoria)?

Awalnya, kota yang terletak di provinsi Gauteng ini bernama Pretoria, yang diberi nama oleh Presiden pertama Zuid-Afrikaansche Republiek (ZAR) atau Republik Afrika Selatan, Marthinus Wessel Pretorius. Dia menamakan Pretoria untuk menghargai jasa ayahnya, Komandan Jenderal Andries Pretorius, perwira Voortrekkers setelah kemenangannya di Perang Sungai Darah menentang kerajaan Zulu.

Pretoria didirikan pada tahun 1855 atas persetujuan parlemen Volksraad, yang dibuat pada 16 Desember. Dan, hari tersebut dianggap sebagai Hari Pretoria. Pretoria dinaikkan kedudukannya menjadi pusat pemerintahan pada 1 Mei 1860.

Namun pada 5 Desember 2000, Pretoria berganti nama menjadi Tshwane untuk menghadirkan “nuansa baru” bagi pusat pemerintahan Afrika Selatan tersebut. Pasalnya, nama Pretoria itu dinilai berbau rasis alias apartheid, sebab orang yang namanya diambil (Komandan Jenderal Pretorius), merupakan lambang penindasan bagi kaum kulit hitam. Dan, sejak itu nama Tshwane pun resmi dipakai.

Sepak bola

Tshwane/Pretoria sudah lama terkenal sebagai kota para pemain profesional di Afrika Selatan, dan juga tempat kelahiran beberapa pemain top negara tersebut. Arcadia dan Berea Park, merupakan klub profesional pertama di kota ini. Beberapa tahun kemudian, muncul Mamelodi Sundowns, Mamelodi United, Pretoria City (yang kemudian berganti nama menjadi SuperSport United) yang terus bertahan.

Mamelodi Sundowns merupakan klub yang paling terkenal dan dipuji. Meskipun Arcadia pernah meraih treble winners pada tahun 1974, tetap Mamelodi Sundows yang disebut-sebut sebagai juara sejati, karena mereka memecahkan rekor Professional Soccer League dengan lima kali juara liga secara berturut-turut sejak 1988. Sundowns, yang mendapat sebutan “the Brazilians” karena berkostum biru-kuning, juga menjadi runner-up CAF Champions League pada tahun 2001.

Jadwal pertandingan

Tanggal Grup Pertandingan
13 Juni Grup D Serbia vs Ghana
16 Juni Grup A Afrika Selatan vs Uruguay
19 Juni Grup E Kamerun vs Denmark
23 Juni Grup C AS vs Aljazair
25 Juni Grup H Chili vs Spanyol
29 Juni Babak 16 besar 1F vs 2E

Moses Mabhida Stadium, Durban

KOTA
Durban
KAPASITAS
42500 orang
ALAMAT
Durban, South Africa

STADION Moses Mabhida merupakan stadion baru yang dibangun di Kota Durban, Provinsi KwaZulu-Natal. Stadion berkapasitas 70.000 tempat duduk penonton ini telah menghabiskan dana sekitar 450 juta dollar atau sekitar Rp 4,2 triliun.

Dana tersebut cukup pas karena stadion ini lebih mengedepankan arsitekturnya. Bentuknya dirancang dengan menggunakan bendera Afrika Selatan sebagai inspirasi desainnya. Konstruksinya mempunyai lengkungan besar yang merepresentasikan persatuan negara pencinta sepak bola. Dua kaki melengkung di sisi selatan stadion bertemu di sebuah pijakan bagian utara sebagai simbolisasi sebuah negara yang dahulu pernah terbagi-bagi dan kemudian bersatu.

Selain itu, stadion ini juga sangat memanjakan penonton karena mempunyai tempat duduk yang cukup lega dan nyaman sehingga penonton memiliki garis pandang yang jelas terhadap lapangan pertandingan.

Keindahan stadion ini juga dapat dinikmati dengan kereta gantung yang bergelayut membelah stadion. Dari titik ini, pengunjung dapat menikmati panorama garis pantai dan pemandangan kota yang indah. Tak hanya itu, stadion ini juga diperlengkapi peredam suara.

Durban: Kota yang Tak Pernah Hening

Sulit rasanya mencari keheningan di Durban. Pasalnya, Durban mendapat predikat kota pelabuhan tersibuk di Afrika. Bagaimana tidak, kota ini terletak di dekat pantai. Apalagi, Iklim subtropis juga menjadi daya pikat kota ini. Hal inilah yang menjadi daya tarik para wisatawan domestik maupun mancanegara untuk datang berbondong ke kota ini. Penduduk kota ini memang menggantungkan perekonomiannya pada faktor wisata.

Kota ini menjadi kota terpadat ketiga di Afrika yang membuat kota ini selalu berdenyut. Menurut survei yang dilakukan pada 2007, kota ini memiliki populasi hampir 23,5 juta. Hal ini karena Durban merupakan wilayah yang luas sekitar 2,292 kilometer persegi.

Asal-usul nama Durban tak terlepaskan dari kedatangan petualang asal Portugis Vasco da Gama pada 25 Desember 1497. Saat itu, ia berpikir di sebuah sungai dan kemudian menamakan tempat itu Rio De Natal (Sungai Natal). Padahal, tempat itu adalah sebuah danau. Nama tersebut diubah menjadi Port Natal. Pada 23 Juni 1835, Port Natal diubah kembali menjadi Durban untuk menghormati Gubernur Cape, Sir Benjanmin D’Urban.

Jadwal pertandingan:
Grup D Minggu (13/6) 20:30 Jerman vs Australia
Grup H Rabu (16/6) 16:00 Spanyol vs Swiss
Grup E Sabtu (19/6) 13:30 Belanda vs Jepang
Grup B Selasa (22/6) 20:30 Nigeria vs Korsel
Grup G Jumat (25/6) 16:00 Portugal vs Brasil
16 besar Senin (28/6) 16:00 1E vs 2F
Semifinal Rabu (7/7) 20:30 W59 vs W60

Nelson Mandala bay Stadium, Port Elizabeth

KOTA
Port Elizabeth
KAPASITAS
42500 orang
ALAMAT
Lake View Road, Port Elizabeth, South Africa

HAMPIR semua tahu dari mana nama stadion ini. Tak lain mengambil nama tokoh antiapartheid, Nelson Mandela. Bapak dan pahlawan besar Afrika Selatan yang rela dipenjara 25 tahun demi memperjuangkan perbedaan ras di negerinya (apartheid).

Ada nama tambahan “bay” atau teluk di belakangnya, karena stadion ini terletak di depan Teluk Nort End. Satu-satunya stadion berkelas dunia di Provinsi Cape Timur ini dibangun dengan biaya 150 juta dolar AS (sekitar Rp 1,4 triliun). Memiliki 150 ruang VIP, 60 ruang kelas bisnis, toko pakaian olahraga, tempat senam, 500 parkir di teluk, dan beberapa ruang serbaguna. Selain itu, stadion ini memiliki 74 blok toilet.

Ini salah satu dari lima stadion baru di Afrika Selatan (Afsel) yang dibangun untuk penyelenggaraan Piala Dunia 2010, selain di Cape Town, Durban, Polokwane, dan Nelspruit.

Stadion dengan 32 pintu masuk ini sengaja didesain dengan unik. Kubahnya berlekuk-lekuk. Memiliki multifungsi, stadion ini tingginya 40 meter. Di sisi barat, stadion ini terdiri dari enam tingkat. Sedangkan di tiga sisi lainnya hanya lima tingkat dengan kapasitas total 48.000 penonton. Namun, setelah Piala Dunia akan dikurangi menjadi 440.000 penonton.

Mulai dibangun pada 2007, FIFA sempat ragu apakah akan selesai sesuai deadline, Januari 2010. Namun, ternyata Stadion Nelson Mandela Bay malah selesai paling awal, pada Desember 2008. Pada 6 Juni 2009, stadion ini dibuka dan dihadiri 17.000 penduduk setempat. Sebulan kemudian, stadion ini sudah dipakai untuk Piala Konfederasi.

Pada 28 November 2009, stadion ini untuk pertama kalinya akan dipakai untuk koser musik. Grup dan penyanyi ternama di Afsel akan tampil, termasuk grup populer Busta Rhymes.

Stadion megah dengan mengambil nama besar tokoh dunia itu, stelah Piala Dunia akan menjadi markas tim sepak bola Southern Kings dan Bay United.

Port Elizabeth: Kota Bersahabat Situs Apartheid
MENYEBUT kota Port Elizabet tak bisa lepas dari Apartheid. Sebuah sistem rasial yang membedakan warga negara berdasarkan warna kulit dan menempatkan warga kulit putih sebagai warga nomor satu. Sistem yang melahirkan penderitaan berkepanjangan di Afrika Selatan (Afsel).

Kota ini didatangi beberapa penjelajah legendaris. Bartolomeu Dias datang ke daerah ini pada 1488. Pada 1497, Vasco da Gama mendarat di daerah ini juga. Pada 1799, Inggris datang dan membangun koloni.

Kota yang membentang sepanjang 16 km di Teluk Algoa ini sering disingkat dengan “PE”. Terletak 770 km sebelah timur Cape Town, PE juga punya sebutan Kota Bersahabat (The Friendly City) atau Kota Berangin (The Windy City). Didirikan oleh koloni Inggris pada 1820, kota ini sudah lama diskriminatif. Dibangun pembatas antara warga kulit putih dan suku Cape Colony dan Xhosa.

Maka, perbedaan perlakuan warga berdasarkan warna kulit sebenarnya sudah berlangsung lama, sejak Inggris pertama kali tiba di kota ini. Namun, diskriminasi ras (apartheid) diperlakukan secara resmi pada 1948, setelah Partai Nasional memenangkan pemilu.

Pada 1994, di bawah Presiden Frederik Willem de Klerk, sistem Apartheid dihapus. Rakyat Afsel pun diperlakukan setara.

Namun, realitanya ternyata butuh proses. Pengaruh Apartheid dalam sikap, perilaku, dan tradisi dalam masyarakat, terutama di Port Elizabet, masih terasa pada awalnya. Butuh waktu lama untuk menghilangkannya secara total.

Terlepas dari itu, Port Elizabeth menjadi kota penting di Afsel. Kota ini punya pelabuhan besat di Algoa Bay dan Coega. Dua pelabuhan itu menjadi penopang industri yang menjadi salah satu andalan kota tersebut, terutama industri otomotif.

Sebagai kota pantai, Port Elizabeth juga punya keindahan alam yang menawan. Kota dengan luas 1.845 km persegi ini memiliki pantai yang indah. Terutama di Algoa Bay yang menjadi pusat rekreasi dan olahraga air. Selain itu, banyak peninggalan kolonial yang bernilai sejarah tinggi seperti batu tua Fort Frederick (1799), Campanile atau menara lonceng yang dibangun pada 1923, juga kebun St. George’s Park atau galeri seni Raja George VI.

Jadwal pertandingan:
Grup B Selasa (12/6) 13:30 Korsel vs Yunani
Grup G Selasa (15/6) 16:00 Pantai Gading vs Portugal
Grup D Jumat (18/6) 13:30 Jerman vs Serbia
Grup H Senin (21/6) 16:00 Cile vs Swiss
Grup C Rabu (23/6) 16:00 Slovenia vs Inggris
16 besar Sabtu (26/6) 16:00 (1A vs 2B)
Perempat final Sabtu (2/7) 16:00 (W53 vs W54)
Perebutan tempat ketiga Sabtu (10/7) 20:30 (L61 vs L62)

Peter Mokaba, Polokwane

KOTA
Polokwane
KAPASITAS
46000 orang
ALAMAT

Tentang Stadion
PEMERINTAH Afrika Selatan tahu betul bagaimana cara mempromosikan wilayahnya di dunia wisata. Di Piala Dunia 2010, promosi gencar itu mencapai puncaknya, termasuk di Kota Polokwane. Di sinilah tempat Stadion Peter Mokaba berdiri.
Yang paling diingat dari kota yang dulu bernama Pietersburg ini adalah nama eks anggota Kongres Nasional Afrika (ANC), Peter Mokaba. Mokaba merupakan salah satu tokoh politik antiaparthied yang disegani, lahir pada 1959 di dekat Pietersburg. Nama ini kemudian diabadikan sebagai nama stadion ini.
Pemain-pemain Afsel sebagian besar berasal dari Provinsi Limpopo. Oleh karena itu, penduduk setempat begitu antusias menyambut turnamen besar di wilayah mereka. Dinas Pariwisata dan Pertamanan Limpopo pun bergerak sigap. Mereka memberikan pelatihan bahasa asing kepada para sopir taksi dan tukang parkir agar bisa membantu wisatawan di jalan-jalan utama provinsi. Pemerintah juga telah menambah armada pemadam kebakaran untuk melakukan langkah-langkah penanganan bencana termasuk banjir yang kerap melanda daerah tersebut. Jaringan telekomunikasi juga diperluas agar pengguna telepon selular mudah mendapatkan sinyal di segala tempat.
Arsitek Schalk van der Merwe dan Sam Manyathela merancang stadion ini dengan desain yang terinspirasi dari pohon baobab, pohon khas Afrika yang berbatang besar seperti botol. Itu terlihat dari empat pilar besar yang dijadikan sirkulasi vertikal bagi penonton. Pilar ini sekaligus menjadi penopang atap baja di salah satu sisi stadion.
Stadion ini merupakan bangunan baru seluas 20 Ha yang didirikan di sebelah timur stadion lama. Pembangunannya memakan biaya 907 juta Rand (Rp 1,5 triliun) dan melibatkan 1.126 pekerja. Di dalamnya berisi 5.000 tempat duduk untuk pers, dua tribun untuk VIP dengan lebih dari 5.000 kursi.
Stadion ini juga dilengkapi sistem pencahayaan baru yang lebih banyak dibanding stadion sebelumnya, demikian pula dengan papan skor elektrik di sisi utara, plus sistem perlindungan dan pendeteksi api.
Karena kapasitasnya kecil, stadion ini hanya akan dipakai pada babak kualifikasi grup. Total ada empat pertandingan yang akan dimainkan di tempat ini, yakni masing-masing satu laga dari Grup A, B, C, dan F.

KOTA
Kota Polokwane: Kilau Emas dari Kota Bersejarah
POLOKWANE kaya akan sumber mineral dan hasil bumi. Daerahnya yang berbukit-bukit dan cuaca yang bersahabat membuatnya bagai lukisan hidup yang indah dipandang mata. Langit yang senantiasa biru dan hamparan hijau di atas tanah menjadikan wilayah ini bagai surga di alam nyata.
Karena semua kekayaan alam itu, Kota Polokwane menjadi satu tempat yang paling dicari oleh banyak orang dari penjuru tempat. Peradaban dunia mencatat wilayah ini sebagai salah satu sejarah tempat migrasi orang-orang Eropa sejak zaman batu. Daerah ini sudah dikenal sejak 2.000 tahun Sebelum Masehi sebelum orang-orang Belanda bermukim dan menamainya dengan Pietersburg pada 1886.
Setelah mendapat status sebagai kota pada 1992 dan berubah nama menjadi Polokwane pada 1995, kota ini sekarang menjadi ibu kota Provinsi Limpopo di timur laut Afsel. Jaraknya sekitar tiga jam perjalanan dari Johannesburg, ibu kota Afsel.
Penduduk Polokwane yang sebagian besar berkulit putih patut bersyukur karena wilayah ini dikitari dengan kekayaan alam melimpah. Kondisi alam yang berbukit-bukit mengepung kota ini. Pemandangan ini semakin indah karena warna langit yang selalu biru dan udara yang masih bersih, cocok untuk para petualang alam. Sungai-sungainya juga biasa dipakai untuk kegiatan arung jeram.
Tanah-tanah yang subur itu telah menghasilkan produk-produk pertanian seperti pepaya, nanas, pisang, jeruk, advokad, dan sebagainya. Daerah ini juga menjadi salah satu penghasil sayur-sayuran terbesar di Afsel. Polokwane juga dikenal sebagai penghasil emas dan sejumlah kekayaan mineral lain seperti kuningan, tembaga, nikel, baja, titanium, dan sebagainya. Keragaman kekayaan alam itu telah menarik manusia dari segala ras. Di tempat ini, percampuran etnis terjadi dari berbagai ras seperti Pedi, Venda, Tsonga, Ndebele, serta orang-orang Afrika dan Inggris. Ada enam bahasa yang paling sering digunakan di kota ini, yakni Inggris, Afrika, Sotho Utara, TshiTsonga, Tshivenda, dan IsiNdebele.
Meski berbeda-beda suku, mereka tetap hidup rukun berdampingan. Penduduk setempat mengenal moto motho ke motho ka batho, yang artinya Anda menjadi manusia karena manusia lain. Itu sebabnya kota ini disebut Polokwane, yang dalam bahasa lokal Swasti, berarti tempat yang aman.
Kata aman itu tak lagi berlaku jika kota ini menghadapi hujan berkepanjangan. Drainase di kota ini tak dirancang untuk mengantisipasi luapan air yang sangat besar sehingga banjir mengancam setiap kali hujan turun dengan deras. Pada Oktober 2009, hujan petir dan angin ribut menumbangkan sejumlah pohon besar yang menghalangi jalan atau bahkan merusak bangunan di sekitarnya. Kabel-kabel dan tiang listrik rubuh, memaksa pemerintah setempat untuk bekerja ekstrakeras mengembalikan prasarana kota.
Meski demikian, kota ini dapat dikatakan sebagai kota masa depan Afrika. Berkat Piala Dunia, pemerintah setempat melakukan banyak perubahan, termasuk membangun jalan, pasokan air, saluran sanitasi, fasilitas parkir, dan infrastrukstur lain.
Sepak bola
Orang-orang di Provinsi Limpopo mencintai olahraga. Polokwane sebagai ibu kota Limpopo merupakan daerah yang menjadi basis supporter terbesar kedua setelah Durban. Wilayah ini juga memiliki atlet-atlet besar di bidang olahraga cricket, golf, dan rugby. Federasi sepak bola Afsel mencatat Limpopo sebagai wilayah
yang memiliki jumlah pemain sepak bola paling banyak di negara tersebut. Tak heran jika dari daerah ini lahir tokoh sepak bola nasional seperti mantan pelatih Afsel Trott Nchilo Moloto.
Sepak bola dari tempat ini pertama kali menapak jenjang profesional pada 1995 ketika klub Real Rovers promosi ke Premier Soccer League (PSL). Selain itu, ada dua klub lain yang pernah bertarung di level tersebut, yakni Dynamos dan Black Leopards. Sayang, musim ini tak satu pun tim dari daerah tersebut yang mengikuti pertarungan paling elite di PSL.
Bangunan lama Stadion Peter Mokaba beberapa kali menjadi tempat pertandingan sepak bola skala regional, termasuk kualifikasi Piala Afrika. Striker Chelsea Didier Drogba akan selalu mengenang stadion ini karena di tempat itulah ia memulai debutnya bersama Pantai Gading dalam kualifikasi Piala Afrika pada 2001.

Jadwal pertandingan:
Grup C Minggu (13/06/09) 18:30 Aljazair vs Slovenia
Grup A Jumat (18/06/09) 01:30 Perancis vs Meksiko
Grup B Rabu (23/06/09) 01:30 Yunani vs Argentina
Grup F Kamis (24/06/09) 21:00 Paraguay vs Selandia Baru

Royal Bafokeng, Rustenburg

KOTA
Rustenburg
KAPASITAS
42000 orang
ALAMAT
Rustenburg, South Africa

Stadion Royal Bafokeng: “Wajah Baru” Sambut Piala Dunia

Royal Bafokeng Sports Palace merupakan satu dari 10 stadion yang akan dipakai untuk mementaskan pertandingan Piala Dunia 2010. Nama Bafokeng diberikan setelah orang-orang dari daerah ini (Bafokeng) hidup di sekitar stadion yang dibangun pada tahun 1999 tersebut.

Awalnya, bangunan ini memiliki kapasitas 38.000 tempat duduk. Tetapi setelah Afrika Selatan ditunjuk menjadi tuan rumah pesta sepak bola terbesar di dunia ini, maka Afsel mulai berbenah, dan Royal Bafokeng yang terletak di kota Rustenburg ini termasuk bagian dari “perubahan wajah” kota tersebut.

Oktober 2007, stadion ini mulai direnovasi dan diperluas sehingga kapasitasnya ditambah menjadi 42.000. Dengan dana sekitar 44,900 juta dollar AS (sekitar Rp 422,958 miliar), dan tuntutan FIFA agar semua fasilitas stadion sudah harus siap pakai sebelum memasuki tahun 2009, pengerjaan stadion ini dikebut sehingga akhirnya bisa dan siap dipakai mulai 12 Juni nanti.

“Wajah baru” Royal Bafokeng ini meliputi penambahan 500 kursi VIP di bagian barat, serta adanya tempat untuk mengakomodasi tempat duduk bagi media. Memang, kehadiran media dalam jumlah yang besar tidak sering terjadi, tetapi tempat bagi pewarta berita tersebut tetap diberikan.

Secara umum, Royal Bafokeng hanya menjadi tempat penyelenggaraan event-event kecil sepak bola di negara tersebut. Meskipun demikian, stadion ini sering menjadi ajang pertandingan Premier Soccer League. Stadion ini pula pernah menjadi saksi kemenangan timnas Afrika Selatan saat mengalahkan Bakino Faso di kualifikasi Piala Dunia, pada tahun 2001.

Namun dengan adanya Piala Dunia, Royal Bafokeng bukan lagi menjadi “penggembira”. Setelah direnovasi dengan biaya yang tinggi, frekuensi penggunaan stadion ini bakal meningkat. Pasalnya, usai Piala Dunia 2010 ini, Royal Bafokeng akan digunakan untuk aktivitas olahraga lainnya, atau juga kegiatan non-olahraga, sehingga stadion yang berjarak 12 kilometer dari pusat kota Rustenburg ini bisa terus bermanfaat.

Kota Rustenburg: “Tempat Istirahat” Pemberian Orang Belanda

Rustenburg, adalah kota yang terletak di kaki pegunungan Magaliesberg di Provinsi North West, Afrika Selatan. Berada di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut serta memiliki temperatur antara 16 derajat celcius selama musim dingin dan 31 derajat celcius pada musim panas, Rustenburg memiliki iklim yang bersahabat untuk aktivitas di luar ruangan.

Nah, daerah dengan populasi penduduk 395.539 ini memiliki beberapa pesona alam yang memikat wisatawan, antara lain Sun City, Valley Of The Waves, Rustenburg Nature Reserve dan Pilanesburg Nature Resort. Selain keindahan alam, Rustenburg juga kaya akan hasil tambang, sehingga tak heran jika wilayah ini mendapat sebutan Negara Bafokeng karena didominasi para pekerja asing.

Penduduk asli Bafokeng berasal dari wilayah ini dan mereka umumnya adalah orang-orang Bakwena, yang sudah menetap lebih dari 200 tahun lalu. Tetapi karena pengaruh Belanda sangat kuat, apalagi mereka (orang Belanda,red) memiliki area pertanian yang luas, maka sejak 1851 nama kota ini berubah menjadi Rustenburg, yang berarti ‘tempat istirahat’.

Sepak bola

Rustenburg juga memiliki kebanggaan di ajang sepak bola. Pasalnya, wilayah ini memiliki satu klub profesional yaitu Platinum Stars, yang dimiliki Royal Bafokeng Sports Holding.

Memang, Platinum Stars merupakan satu-satunya klub dari Rustenburg. Tetapi, mereka merupakan salah satu klub yang paling banyak melahirkan pemain-pemain bintang untuk timnas Afrika Selatan, termasuk Dillon Sheppard, Jabu Pule Mahlangu dan mantan pemain belakang Tottenham Hotspur, Mbulelo ‘Old John’ Mabizela. Platinum Stars dilatih oleh mantan pemain Bafana Bafana–julukan timnas Afrika Selatan–, Steve Kompela.

Sebenarnya, masih ada satu klub yang berasal dari North West, yaitu Garankuwa United. Tetapi, klub ini tampil di Divisi I.

Jadwal pertandingan

Tanggal Grup Pertandingan
12 Juni Grup C Inggris vs AS
15 Juni Grup F Selandia Baru vs Slovakia
19 Juni Grup D Ghana vs Australia
22 Juni Grup A Meksiko vs Uruguay
24 Juni Grup E Denmark vs Jepang
26 Juni Babak 16 besar 1C vs 2D

Soccer City, Johannesburg

KOTA
Johannesburg
KAPASITAS
94700 orang
ALAMAT
Soweto Highway, Johannesburg

AFRIKA Selatan merupakan negara Afrika paling modern saat ini, baik secara eknomi, politik, dan sosial. Tentu sebagai negara bekas jajahan Inggris yang baru merdeka tahun 1910 dan menjadi republik pada 1961 ini, masih banyak ketimpangan dan tambal-sulam di sana-sini. Modernisasi pun belum berhasil menjamah seluruh wilayah seluas 1.221.037 kilometer persegi ini.

Salah satu wilayah yang paling sarat dengan modernisasi adalah Johannesburg. Kota penghasil emas dan berlian, yang pada abad ke-19 menarik datangnya imigran penambang emas dari berbagai belahan dunia, kini menjelma menjadi kota terbesar di Afrika Selatan yang dihuni oleh masyarakat dari beragam latar belakang budaya.

Sebagai kota multietnik, mau tidak mau, Johannesburg dipaksa tumbuh secara lebih cepat untuk mengakomodasi berbagai kebutuhan masyarakat. Hal itu juga yang mendorong kota ini berkembang pesat secara ekonomi yang menyumbang 16 persen dari total pendapatan per kapita negara. Tidak berlebihan kota ini mendapat sebutan mesin ekonomi Afrika Selatan dan acuan kemajuan Afrika Selatan.

Uniknya, meski berstatus kota besar dan modern, kota ini masih menyisakan tempat bagi keasrian alam, budaya, dan sejarah. Tidak kurang dari 2300 taman tersebar di kota ini. Kentalnya aroma alami dan klasik juga diperkuat dengan keberadaan museum-museum, termasuk mueseum apartheid, Constitution Hill, dan sejumlah kota lama yang masih hidup, seperti Soweto.

Di Soweto inilah, Stadion Soccer City berdiri. Stadion ini akan menandai sejarah baru sepak bola Afrika Selatan, karena di Stadion inilah akan digelar pertandingan perdana dan final Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Kota ini mendapat kehormatan itu, karena di sini jugalah denyut sepak bola Afrika Selatan berdenyut.

Denyut itu akan semakin kencang manakala suntikan adrenalin Derbi Soweto, yaitu duel antara Orlando Pirates dan Kaizer Chief digelar. Saat derbi berlangsung, semua penggila bola Afrika menoleh ke Soweto.

Kenyataan bahwa di kota inilah berdiri dua klub terbesar Afrika Selatan dan fakta bahwa kota ini dipadati sekitar 40 persen populasi Johannesburg merupakan salah satu alasan stadion utama Piala Dunia dibangun di tempat tersebut dan diberi nama Soccer City.

Soccer City pertama kali dibuka pada 1989 dengan daya tampung sekitar 80.000 penonton. Untuk keperluan Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, stadion ini dipugar pada tahun 1989 dan kapasitasnya dinaikkan menjadi 94.700 orang. Stadion ini merupakan stadion termegah dan terbesar di Afsel.

Menilik arsitektur, stadion paling megah ini ternyata menolak mengambil bentuk modern. Sebaliknya, mereka kembali ke dasar tradisi dan budaya asli mereka.

Bangunan ini mengambil bentuk pot tembikar Afrika (calabash), yang memang berbentuk labu. Dinding stadion bagian luar merupakan mosaik berwarna api dan tanah. Rangkaian lampu dipasang melingkari dasar dinding luar sebelah bawah. Melihat stadion itu dari jauh saat malam tiba, Anda seperti memandang panci di atas api. Suasana akan semakin dramatis, ketika lapisan mosaik dinding itu disapu cahaya-cahaya dari lampu sorot.

Kejutan Soccer City tak berhenti di situ. Di bagian dalam, tribun-tribun dibentuk dan diwarnai sedemikian rupa sehingga terlihat sepuluh garis hitam vertikal. Sembilan dari sepuluh garis itu merupakan simbol geografis dan sembilan stadion lain yang akan dipakai sebagai tempat perhelatan Piala Dunia 2010. Sementara garis kesepuluh merupakan simbolisasi Stadion Olimiade Berlin, yang merupakan tempat digelarnya partai final Piala Dunia 2006 Jerman.

Dengan kemegahan dan keanggunan begitu rupa, sudah layak dan sepantasnyalah stadion ini didaulat untuk mengawali dan mengakhiri hajatan sepak bola terbesar pertama di daratan Afrika.

Jadwal pertandingan:
Grup A Jumat (11/6) 16:00 Afsel vs Meksiko
Grup E Minggu (14/6) 13:30 Belanda vs Denmark
Grup B Rabu (17/6) 13:30 Argentina vs Korsel
Grup G Minggu (20/6) 20:30 Brasil vs Pantai Gading
Grup D Rabu (23/6) 20:30 Ghana vs Jerman
16 besar Sabtu (27/6) 20:30 1B vs 2A
Perempat final Jumat (2/7) 20:30 W49 vs W50
Final Minggu (11/7) 20:30 W61 vs W62

Sumber: Kompas

Iklan

4 Tanggapan

  1. iraha indonesia boga stadion kos kararitu nya?
    loba eui geus 700 an
    http://adedoank8.wordpress.com/

  2. weeww.. lengakap bgt gan.. 😉

    kapan ya indonesia bisa py stadion kek gt.. aapakah indonesia lebih tertinggal dengan afrika selatan?? aneh jg.. tapi yg penting pasti jerman juara.. hehe.. :mrgreen:

    • Sebetulnya jika ada keinginan yang serius dari pemerintah, sepak bola ga akan ketinggalan.. Bukankah Negara kita dengan Afrika Selatan tidak jauh berbeda, namun mereka malah jauh meninggalkan kita.. Ironis memang.. Ya.. Namanya juga Indonesia.. Kita harus bangga dan maklum akan kondisi ini.. Betul ga gan??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Link Sahabat

  • %d blogger menyukai ini: