Sahabat Pemberian Tuhan


Sani dan Nurman adalah pasangan pekerja paling kompak di kantor. Mereka berteman sangat baik sejak bertemu di kantor beberapa bulan yang lalu. Walaupun pekerjaan mereka berbeda Sani berkerja sebagai teknisi mesin dan Nurman sebagai transportir, tapi mereka sangat kompak dalam banyak hal. Mulai dari makan siang selalu bersama, menjalani hobi yang sama, dalam hal jam kerja Sani atau Nurman rela lembur demi menemani temannya berkerja, bahkan mereka selalu kompak dalam hal ibadah. Hari-hari kerja mereka selalu di jalani bersama dengan gembira. Bahkan di luar jam kerja pun mereka tetap kompak.

Suatu hari Sani mengajak Nurman ke rumahnya, tanpa basa-basi lagi Nurman langsung meng-iyakan nya. Akhirnya sepulang kerja mereka berdua langsung menuju ke rumah Sani. Setibanya di rumah Sani, Nurman diberikan hidangan yang luar biasa menggugah selera. Tak lama setelah itu, Nurmanpun menyantap hidangan tersebut ditemani Sani dan keluarganya. Keluarga Sani memperlakukan Nurman seperti Saudara mereka walaupun Nurman baru pertama kali berkunjung ke rumah Sani. Selesai menyantap hidangan, Sani dan Nurman pergi ke tempat ibadah bersama. Sepulangnya dari tempat ibadah mereka berdua melakukan hobi yang sama hingga larut malam. Waktu menunjukan pukul 23.35 dan Nurman pun memutuskan pulang.

Di tengah perjalanan, Nurman masih teringat akan kehangatan keluarga Sani yang baru ditemui setelah berbulan-bulan mengenalnya. Belum selesai membayangkan hal itu, Nurman dikagetkan oleh seorang anak kecil yang menyebrang tepat di depannya, hal itu membuat Nurman harus membanting kemudinya ke sisi jalan berlawanan arah. Niat menghindari anak kecil berubah menjadi petaka karena di arah yang berlawanan muncul kendaraan dengan kecepatan tinggi menghantam kendaraanya. Di saat itu pun Nurman tidak sadarkan diri.

Setelah kejadian itu Nurman hanya tersadar dan melihat ke arah lampu yang terus melintas yang dilaluinya. Dia melihat tangan, kaki dan badannya penuh darah dan juga melihat orang-orang di sekelilingnya sedang mendorong dengan tergesa-gesa tempat tidurnya tanpa mendengar sepatah kata pun dari mereka. Kemudian, Nurman kembali tidak sadarkan diri.

Akhirnya Nurman kembali terbangun dan melihat hampir di seluruh tubuhnya dibalut kain perban, hanya kaki sebelah kiri saja yang tidak. Nurman melihat seorang perawat menghampirinya dan bertanya akan kabarnya, Namun Nurman hanya bisa terdiam seolah tidak percaya akan apa yang dialaminya.

Berbulan-bulan Nurman hanya dapat terbaring sesekali turun dari ranjangnya untuk melatih kakinya agar dapat berjalan kembali dengan bantuan keluarganya. Selama itu pun rekan dan kerabat silih berganti mengunjunginya. Namun, diantara mereka yang berkunjung selama ini Sani tidak pernah terlihat. Nurman mencoba menyimpan rasa herannya di dalam hati selama itu dan tetap berpikir positif akan hal itu.

Sudah sepuluh bulan Nurman dirawat akhirnya Nurman dapat berjalan lagi. Namun, masih ada hal yang mengganjal di hatinya dan selalu bertanya kemanakah Sani teman baiknya itu. Hal tersebut wajar saja, karena berbulan-bulan Sani tidak pernah terlihat lagi. Akhirnya Nurman penasaran dan berniat mengunjungi rumah kerabatnya itu.

Di perjalanan menuju rumahnya Sani, Nurman tertegun karena sudah banyak hal yang berbeda. Mulai dari jalan yang sudah diaspal, pohon-pohon yang rimbun dan rumah-rumah yang berubah warna dan bentuk.

Setelah sampai di depan lokasi rumahnya Sani, Nurman terkejut. Rumah Sani yang dahulu pernah dikunjungi kini hanya merupakan lapangan tanah kosong yang diapit oleh dua rumah di kedua sisinya. Nurman berpikir kalau ia pasti salah tempat, Nurman pun mencoba mengitari lokasi tesebut sekali lagi.

Selama berputar-putar Nurman teringat bentuk rumah tetangga Sani, Nurman pun kembali ke tempat tanah kosong tersebut untuk memastikan bahwa lokasi tersebut bukanlah rumah Sani yang pernah dikunjunginya. Namun semua harapan sirna, karena kedua rumah yang mengapit itu sama persis dengan yang dia ingat.

Nurman pun turun dari kendaraannya dengan terheran-heran. Karena hanya kedua rumah ini yang tidak berubah sama sekali. Rasa heran Nurman semakin bertambah karena di tanah tersebut sama sekali tidak terlihat tanda-tanda adanya bangunan sebelumnya seperti bekas pondasi dan reruntuhan tembok. Semuanya hanya tanah kosong saja.

Dengan rasa penasaran Nurman mencoba bertanya kepada pemilik salah satu rumah berharap mendapatkan jawaban yang positif. Namun, jawaban tetangga sangat mengejutkan bahwa tidak ada rumah yang pernah dibangun di tanah kosong itu. Seakan tidak percaya Nurman mencoba mendesak agar pemilik rumah itu menjawab jujur, namun jawabannya sama. Kemudian Nurman bertanya tentang Sani padanya, pemilik rumah itu menjawab tidak ada nama itu di daerah ini. Nurman teringat bahwa sewaktu dia mengunjungi rumahnya Sani hanya bertemu dan berbicara dengan keluarganya Sani, bahkan dia tidak melihat orang-orang yang berada di sekitar rumah Sani. Nurman pun terpukul dengan perasaannya yang kacau dan pulang dengan penuh tanda tanya di benaknya.

Hari masuk kerja pertama setelah kecelakaan telah tiba bagi Nurman. Sesampainya di tempat kerja Nurman berniat menghampiri Sani di Ruang teknisi. Namun, Sani tidak terlihat di ruang itu. Dengan penuh rasa heran, Nurman mencoba bertanya pada teknisi yang lain. Yang berada di ruang itu, namun bukan jawaban yang dia inginkan yang didapatkan. Dia terkejut dan hampir pingsan mendengar bahwa tidak pernah ada nama Sani yang berkerja di bagian teknisi. Melihat kondisi Nurman yang hampir pingsan, para teknisi pun menghampiri dan menolongnya. Dengan terheran-heran mereka pun bertanya-tanya pada Nurman. Nurman tidak dapat menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan para teknisi, namun Nurman hanya memberikan tatapan kosong dan mengucap nama Sani berulang-ulang dengan lirih. Nurman pun dibawa ke klinik di tempat kerjanya. Nurman diberikan waktu istirahat selama beberapa hari setelah kejadian itu, dan pekerjaan sebagai transportir digantikan untuk sementara waktu.

Hari demi hari Nurman lalui dengan perasaan bingung dan rindu pada teman baiknya Sani. Dia mencoba mencari jawaban akan semua misteri, namun setiap jalan yang di tempuh selalu berakhir tanpa jawaban yang pasti.

Sehari sebelum tiba untuk kembali berkerja Nurman tersadar masih ada satu jalan yang dapat ditempuh, yaitu mencari jawaban melalui Tuhan. Pada malam harinya Nurman berdo’a dan mengharap ada petunjuk yang di berikan Tuhan untuknya. Pagi harinya sebelum berangkat berkerja, Nurman kembali berdo’a berharap mendapatkan petunjuk akan Sani.

Sesampainya di tempat kerja Nurman mulai berkerja kembali sebagai transportir. Hari demi hari dia jalani pekerjaannya dengan baik seperti dulu bersama Sani. Setiap haripun Nurman berdo’a kepada Tuhan untuk memberikan jawaban yang dia inginkan. Hingga saat ini Nurman tetap berdo’a untuk Sani. Kali ini Nurman selalu terlihat senang setiap harinya. Walaupun Sani masih jadi misteri bagi Nurman, tetapi Nurman senang karena Sani selalu ada di setiap do’a Nurman untuk menemaninya.

“Mungkin Sani tidak pernah berada di samping Nurman, namun Tuhan selalu ada untuk Nurman”.

 

4 Tanggapan

  1. ide ceritanya bagus, bikin penasaran ma sosok Sani…:-D
    suka ceritanya…

  2. well well welll, ditunggu part duanya. penasaran. si nurman teh ngehayal atau gimana. hahaha. lanjutin aaah,😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Link Sahabat

  • %d blogger menyukai ini: